
Aktor Ajil Ditto yang dikenal berkat perannya dalam film drama, selama ini berdoa agar bisa mendapat peran di film action atau perang. Doanya itu kini terjawab lewat film terbaru produksi Bahagia Tanpa Drama dan Celerina Judisari Production, berjudul Believe.
Karya sutradara Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana itu memasang Ajil sebagai tokoh Agus. Agus adalah anak kolong, yang jadi prajurit di Operasi Seroja mulai 1975 silam.
"Rasanya benar-benar jawaban dari doaku. Aku berdoa sebelum ditawari film ini. Mudah-mudahan pengin banget film perang, action, pengin film yang megang tombak atau senjata. Ini ternyata dijawab doanya," kata Ajil saat berkunjung ke kumparan, belum lama ini.

Ajil sadar, bahwa film bergenre action atau perang di Indonesia bakal tidak seramai film horor. Namun Ajil mengaku bahagia ketika menjalani adegan demi adegan Agus.
"Film ini secara market mungkin tidak terlalu ramai di Indonesia. Tapi apa salahnya kita bahagia sama peran yang kita nantikan," ujar Ajil.
Berbagai penyesuaian dilakukan Ajil. Mulai dari latihan intens, mempelajari berbagai hal soal militer, penggunaan senjata, bela diri, hingga terjun ke medan perang demi membela negaranya.
"Gimana caranya sesuai prosedur, tapi jalan cerita enggak boleh pincang," jelas Ajil.
Alhasil, karena ikut latihan intens, Ajil dan kawan-kawan bisa luwes dan mengatasi sendiri kendala teknis pribadi saat masuk ke lokasi set.
"Karena sudah latihan, jadi teknis apa pun misalnya senjata macet, kita enggak kagok. Jatuh pelurunya, kokang lagi. Jadi itu sudah hapal, soal apa yang mereka (prajurit) lakukan," ucap Ajil.
"Impactnya, selama syuting itu lebih genuine. Di screen itu jadi lebih nyata dan natural," lanjut Ajil.

Soal beladiri, Ajil berpendapat bahwa penonton akan disuguhkan beladiri tanpa ciri khas tertentu. Para prajurit dalam fim Believe hanya berusaha dengan berbagai cara agar menjatuhkan lawan.
"Yang bisa kami tawarkan, kami tidak sajikan fighting ciri khas suatu bela diri. Yang kami sajikan one on one fighting. Kayak street fighting, tapi efisiensi dalam gerakan. Tujuan kita menjatuhkan lawan. Lo mati atau gue yang mati. Jadi real dan, memang untuk membela diri agar enggak mati gitu," tutur Ajil.
Film ini diangkat dari kisah nyata buku biografi Believe: Based on a True Story of Faith, Dream, and Courage. Film ini merekam perjuangan prajurit Indonesia dalam Operasi Seroja tahun 1975 hingga 1999.
Film ini menghabiskan 39 hari syuting dan 45 hari persiapan. Hasilnya bisa ditonton di bioskop seluruh Indonesia mulai 24 Juli.