
Pelaku industri perjalanan dan wisata menilai insentif stimulus ekonomi yang berupa diskon tiket dan tarif tol dari pemerintah yang digelontorkan dari awal Juni hingga akhir Juli 2025 memberi dampak terhadap peningkatan pendapatan.
Co-Founder & CMO Tiket.com, Gaery Undarsa, menyatakan bahwa tak hanya insentif diskon saja, tetapi kebijakan pemerintah yang sudah membolehkan Kementerian/Lembaga (K/L) untuk rapat atau melaksanakan acara di hotel-hotel pun dapat mendorong pendapatan bisnis ticketing.
“Kalau stimulus dari pemerintah pasti ada efeknya. Yang paling simple tuh sekarang, pemerintah sudah mulai bolehkan event di hotel, walaupun dengan klasifikasi tertentu. Itu dampaknya besar,” kata Gaery dalam acara Power Lunch GDP Venture di Midaz Senayan Golf, Jakarta Pusat, Rabu (23/7).
Menurutnya, siklus liburan di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Tidak hanya terbatas pada musim libur sekolah dan akhir tahun seperti di negara lain, Indonesia memiliki tiga musim liburan utama: Lebaran, libur sekolah, dan akhir tahun. Namun, menariknya, permintaan tetap menunjukkan tren positif bahkan di luar musim ramai.
“Bahkan di low season tahun ini pun, kami masih melihat peningkatan (Pendapatan) dibanding tahun lalu. Itu menunjukkan bahwa traveling makin jadi prioritas utama,” Sebut Gaery.
Meskipun kondisi daya beli masyarakat saat ini tergolong rendah akibat ketidakpastian ekonomi global, Gerry menilai minat masyarakat untuk berlibur tetap kuat. Ia menambahkan, keberadaan stimulus dari pemerintah turut mendorong kelancaran operasional bisnis serta memengaruhi preferensi konsumen dalam merencanakan perjalanan.

“Sebenarnya kebutuhan untuk bepergian itu masih ada. Dampaknya terasa. Apalagi kalau ada pelonggaran atau kemudahan dari pemerintah, itu (semakin) cukup besar efeknya,” ujar dia.
Meskipun belum dapat mengungkapkan data pendapatan untuk periode Juni–Juli tahun ini, Gaery kembali menegaskan bahwa stimulus dari pemerintah sangat membantu. Ia bahkan membayangkan bagaimana dampaknya jika stimulus tersebut tidak diterapkan.
“Saya enggak bisa bilang sih (jumlah datanya), karena datanya bilang kenaikannya lumayan. Sebenarnya simpelnya adalah bagaimana kalau (insentif) nggak ada? Jadi menurut saya sih impact-nya ada,” tambah Gaery saat ditemui usai acara.
Sementara itu, Pendiri SweetEscape, David Soong, menyampaikan bahwa stimulus pemerintah tidak berdampak signifikan terhadap pendapatan perusahaannya. Menurutnya, layanan fotografi liburan yang ditawarkan SweetEscape sudah menjangkau pasar internasional dengan segmen pelanggan kelas atas. Ia menambahkan, harga jasa yang ditawarkan berkisar antara Rp 2,7 juta hingga Rp 4,5 juta.
“Client (kami) memang sedikit high-end, jadi (dengan adanya insentif) stimulus dan lain-lain sepertinya nggak nyambung,” jelas David.
Keberadaan paket insentif liburan dari pemerintah dinilai tidak terlalu berdampak pada pendapatan bisnis seni dan teater musikal. Permintaan tiket yang tinggi justru lebih banyak didorong oleh tren pertunjukan yang tengah naik daun pada periode tersebut.
“Jadi bisa dilihat (demand tiket) itu dibangun dari hasil FOMO (Fear of Missing Out). Karena sekarang tuh kayaknya keren kalau nonton ke teater atau musikal,” sebut Renitasari, selaku Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Data Officer Lokadata.id, Suwandi Ahmad, menyatakan faktor utama yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk berlibur di saat daya beli sedang tercatat menurun. Salah keduanya adalah faktor waktu dan variabel harga.
Katanya, masyarakat kini cenderung memilih waktu liburan bukan semata-mata saat high season atau tanggal merah, melainkan saat mereka menemukan kesempatan dengan harga yang sesuai anggaran.

“Karena variabel harga. Kemudian ada stimulus (pemerintah) atau insentif ya, itu sangat berpengaruh pada pemilihan orang ketika orang mau berlibur,” sebut Suwandi.
Dengan begitu, baik pelaku industri maupun data riset menunjukkan bahwa stimulus pemerintah dan dinamika sosial tetap menjadi penggerak utama pergerakan sektor wisata domestik.
Sebelumnya, pemerintah menyiapkan 6 paket insentif stimulus ekonomi untuk kuartal II 2025. Adapun insentif tersebut bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan perekonomian nasional, terutama selama periode libur sekolah di bulan Juni–Juli 2025.
Dari 6 paket tersebut, pemerintah telah memberikan diskon tarif pesawat yang dipangkas hingga 14 persen, karena adanya insentif PPN ditanggung pemerintah sebesar 6 persen, sehingga penumpang hanya perlu membayar 5 persen pada periode Juni-Juli 2025.
Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk memberikan 5 paket stimulus untuk menjaga daya beli dan stabilisasi ekonomi. Untuk stimulus ini, pemerintah menggelontorkan Rp 24,44 triliun, sebanyak Rp 23,59 triliun di antaranya berasal dari APBN dan Rp 0,85 triliun dari non APBN atau dunia usaha.
Selain diskon transportasi dan diskon tarif tol yang membidik libur periode Juni-Juli 2025, bantuan tersebut meliputi penebalan bantuan sosial (bansos), Bantuan Subsidi Upah (BSU), dan Perpanjangan Diskon Iuran Jaminan Kehilangan Kerja (JKK).