




Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman Bonifasius Kariuki pada Jumat (11/7/2025), seorang pedagang asongan yang tewas tertembak saat terjadi kerusuhan dalam aksi unjuk rasa di ibu kota Kenya, Nairobi, bulan lalu.
Kariuki menjadi salah satu korban dari unjuk rasa besar-besaran di Kenya. Unjuk rasa tersebut terjadi sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang kontroversial. Aksi yang semula berlangsung damai berubah ricuh ketika aparat keamanan mulai membubarkan massa secara paksa. Dalam kekacauan itulah, Kariuki yang saat itu berada di lokasi kejadian tertembak di bagian kepala dan dinyatakan meninggal di tempat.
Isak tangis keluarga dan kerabat menyambut peti jenazah Kariuki yang dibawa dengan iring-iringan pelayat. Suasana semakin haru ketika ibu almarhum, Susan Njeri, jatuh pingsan akibat tak mampu menahan kesedihan mendalam. Ia harus dibopong keluar dari area pemakaman oleh kerabat dan tim medis setempat.
Peristiwa kematian Kariuki memicu kemarahan luas dari organisasi masyarakat sipil dan kelompok hak asasi manusia di Kenya. Mereka menuntut akuntabilitas dari pihak kepolisian dan penyelidikan mendalam atas penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran.
Pemakaman Bonifasius Kariuki bukan hanya pelepasan seorang anak, saudara, dan sahabat, tapi juga menjadi pengingat keras bagi pemerintah Kenya tentang pentingnya melindungi hak warga negara untuk menyuarakan aspirasi secara damai tanpa harus dibayar dengan nyawa.
