
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap neraca perdagangan industri manufaktur surplus pedagangan sebesar USD 10,4 miliar atau setara dengan Rp 169,39 triliun (dengan kurs Rp 16.287 per dolar AS).
Agus menuturkan ekspor industry manufaktur sepanjang kuartal I 2025 sebesar Rp USD 52,9 miliar atau setara dengan Rp 861,61 triliun.
Meskipun Agus dalam hal ini tidak membuka nilai impor pada periode yang sama, namun jika ekspor dikurangi angka surplus, maka impor industri manufaktrur pada periode tersebut adalah USD 42,5 atau setara dengan Rp 692,22 triliun.
Mantan Menteri Sosial itu juga mengeklaim, ekspor industri manufaktur pada periode tersebut setara dengan 80 persen total ekspor nasional yang sebesar USD 62,98 miliar.
"Di mana nilai ekspor manufaktur tercatat sebesar USD 52,9 miliar atau setara dengan hampir 80 persen dari total ekspor nasional berasal dari sektor manufaktur," ucap Agus dalam gelaran Pelepasan Ekspor PT Tata Metal Lestari ke Amerika Serikat di Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (18/7).
Agus yakin, surplus perdagangan industry manufaktur akan terus mendominasi surplus perdagangan Indonesia secara nasional di kuartal-kuartal berikutnya. Dia menyoroti moncernya kinerja ekspor industri manufaktur sepanjang 2024.
“Sebagai sektor penimbang ekspor di bidang nasional, nilai ekspor sektor industri manufaktur sepanjang tahun 2024 sebesar USD 196,5 miliar atau hampir USD 197 miliar, ini 74,25 persen dari total ekspor nasional dan angka ini tumbuh 5,11 persen dari ekspor industri nasional pada tahun sebelumnya, pada tahun 2023 yang mencatat nilai USD 186,9 miliar,” jelasnya.
Secara sektoral, industri logam dasar memberikan kontribusi sebesar 1,10 persen terhadap PDB nasional pada kuartal I 2025. Industri ini juga mencatatkan pertumbuhan paling tinggi dari subsektor industri manufaktur lainnya, yaitu mencapai 14,47 persen (yoy).
Agus juga membeberkan data World Steel Association pada 2024 yang menyebutkan Indonesia menempati posisi ke 14 dalam produksi crude steel dunia dengan produksi sebesar 17 juta ton.
“Jumlah realisasi produksi ini telah mengalami kenaikan signifikan dalam 5 tahun terakhir yaitu mencapai 98,5 persen jika dibandingkan produksi tahun 2019 yaitu 8,5 juta ton. Hampir 5 tahun kenaikannya hampir 1 persen,” imbuhnya.
Saat ini kapasitas produksi terpasang dari crude steel nasional berada di angka 21 juta ton per tahun. Agus menargetkan angka produksi ini meningkat menjadi 27 juta ton per tahun pada tahun 2029.
“Kami menargerkan dalam tiga atau empat tahun ke depan, kita bisa menempati posisi ke-11 atau ke-10,” ujar Agus.