
SMAN 1 Depok sudah menerapkan kebijakan 50 siswa per kelas untuk siswa baru pada tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan ini merupakan buntut dari program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS) yang digagas Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi alias KDM.
Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi, jarak antara papan tulis ke meja siswa sekitar 2 meter. Suasana kelas tampak ramai karena diisi 48 siswa. Pada tahun ajaran sebelumnya, tiap kelas diisi 40 siswa.
Wakil Kepala Humas SMAN 1 Depok, Iwan, menyebut pihak sekolah langsung menata alokasi meja dan kursi saat kebijakan itu diterapkan. Salah satunya dengan memanfaatkan meja dan kursi cadangan yang dimiliki sekolah, meski ternyata itu tak cukup.
"Kemarin sekolah di waktu hari libur itu, ketika lagi men-setting untuk 48 siswa per kelas itu, kita mengadakan pengadaan meja kursi baru," ungkap Iwan saat ditemui di lokasi, Rabu (23/7).
Iwan menyebut, jumlah siswa baru di SMAN 1 Depok mencapai 480 orang. Mereka tersebar di 10 ruang kelas yang berbeda. Adanya penambahan siswa itu pun berimbas pada ruang gerak yang semakin sempit.
"Karena meja kursi otomatis di kondisi kelas itu sudah geser ke depan. Mendekati papan tulis. Jadi kalau presentasi untuk kelompok itu agak sempit depan. Tapi masih bisalah," ujar dia.

Ruangan Gerah
Di tiap ruang kelas, ada 2 AC berukuran 1,5 PK. Meski ada AC, suasana gerah dan panas tetap dirasakan saat kegiatan belajar mengajar. Salah seorang guru biologi, Ratna, merasakan hal tersebut.
"Ruangan itu ruangan tertutup. Kemudian yang menghirup oksigen lebih banyak. Kita butuh udara yang jauh lebih segar, yang tadinya mungkin AC dengan kapasitas sekian, yang mungkin cukup. Tapi dengan jumlah siswa yang banyak, ya mungkin menjadi lebih gerah ," ungkapnya

Selain itu, kata dia, jumlah siswa yang semakin banyak berimbas pada kerja guru yang semakin ekstra mengawasi siswa. Apalagi sebagai guru biologi, kata dia, siswa-siswanya mesti belajar di lab yang ukuran ruangannya juga tak besar-besar amat.
"Dengan jumlah anak yang sebanyak itu. Kemudian gurunya hanya satu untuk mengawasi pada saat praktikum harus mengkondisikan kelas. Kemudian anak dengan daya ingin tahunya itu, [guru] mengawasinya agak repot gitu. Kenapa begitu? Karena alat-alat itu adalah alat-alat yang memang dia harus hati-hati penggunaannya," ungkapnya.
"Memang itu tantangan ya. Tapi kembali lagi, kita sebenarnya ya kalau sudah jadi kebijakan ya kita laksanakan," tambahnya.
Idealnya Satu Kelas 25 Orang
Salah satu siswa baru di SMAN 1 Depok, Gendis, menyebut kaget dengan jumlah ruang kelas yang diisi hampir 50 kelas. Sebab, kata dia, saat di SMP ruang kelasnya hanya diisi 25 orang.
"Kagetnya pertama penuh. Yang kedua tidak kondusif. Itu sih yang paling aku ketahui. Dua itulah kira-kira," ungkap Gendis.
Gendis menyebut bahwa dirinya akhirnya memilih duduk di kursi paling depan. Alasannya supaya bisa fokus menyimak materi yang disampaikan guru. Dia pun khawatir bila kelasnya nanti semakin berisik karena kebanyakan siswa.
"Hari pertama, biasa aja nggak berisik. Hari kedua mulai berisik, dan sekarang lagi berisik-berisik ya. Dan pasti untuk ke depannya lagi, lebih berisik lagi. Karena akan makin akrab pastinya kan," ungkap dia.

Kalau bisa memilih, kata Gendis, dirinya mau ruang kelasnya cuma diisi 25 siswa lagi. "Pastinya balik 25. Mungkin semua murid bakal bisa jawab gitu. Mungkin 25," ujar dia.
Senada dengan Gendis, Ghassan juga mau bila ruang kelasnya hanya diisi 25 murid. Meski begitu, kata dia, sebetulnya saat SMP dirinya sudah terbiasa dengan jumlah siswa yang banyak di ruang kelas. Kata dia, siswa di kelasnya saat SMP mencapai 40 orang.
"Kalau untuk sekarang saya ngerasa space-nya memang tidak sebesar yang dulu, tapi cukuplah," ungkap Ghassan.