
Menteri Investasi sekaligus CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menegaskan bahwa fokus utama investasi Danantara tetap berada di dalam negeri, meskipun lembaga itu akan menanam modal sebesar Rp 130 triliun di Amerika Serikat.
"Kita bilangnya 80 persen, 20 persen investasi. 80 persen fokus di Indonesia, 20 persen di luar Indonesia," ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (22/7).
Pernyataan itu disampaikan Rosan menanggapi kabar soal lembaga itu akan membangun 17 kilang minyak modular di Amerika Serikat. Rencana ini bagian dari kesepakatan tarif impor antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prabowo Subianto dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.
Rosan menjelaskan bahwa pihaknya masih mengevaluasi semua rencana investasi secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa Indonesia menjadi prioritas utama, sementara investasi luar negeri, termasuk ke AS, tetap diperhitungkan secara selektif dan strategis.
"Ya kita evaluasi semua investasi, kita kan evaluasi di Indonesia dulu," katanya.
Ia menambahkan bahwa kriteria utama dari setiap keputusan investasi Danantara bukan hanya lokasi, tetapi juga manfaat konkret yang bisa diperoleh Indonesia dari sisi teknologi dan penciptaan lapangan kerja.
"Yang penting bagi kami adalah bagaimana dengan kami investasi itu ada transfer of teknologinya dan juga ada penciptaan lapangan pekerjaan," ujar Rosan.
Selain itu, ia menegaskan bahwa semua proyek harus memberikan tingkat pengembalian (return) yang sesuai dengan target perusahaan.
"Juga tentunya yang penting adalah return-nya sesuai dengan benchmark yang kita bikin yaitu di atas cost of capital. Jadi kita lihat semua," tutupnya.