
Presiden Prabowo Subianto bakal melakukan negosiasi langsung dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait Indonesia terkena tarif impor 32 persen. Prabowo disarankan memberi tawaran substansial ke AS agar tarif itu turun.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, melihat Prabowo perlu menawarkan berbagai kemitraan khususnya investasi strategis di beberapa sektor yang diminati oleh AS.
“Jika Presiden Prabowo mampu meyakinkan Presiden Trump bahwa Indonesia serius dalam menjalin kerja sama strategis yang saling menguntungkan, khususnya terkait investasi strategis di sektor mineral kritis, pertanian, atau energi yang memang diminati oleh AS, maka peluang penurunan tarif bisa lebih besar,” kata Josua kepada kumparan, Minggu (13/7).
Josua melihat langkah negosiasi langsung antar kepala negara bisa menjadi terobosan politik yang efektif, terutama dalam situasi hubungan perdagangan yang cukup tegang seperti saat ini. Upaya itu dinilai menjadi langkah tertinggi dalam diplomasi ketika menghadapi kebuntuan atau hambatan yang terjadi di level teknis.

“Terlebih lagi, Presiden Trump dikenal memiliki preferensi kuat terhadap hubungan interpersonal dengan para pemimpin negara lain, yang seringkali mampu menghasilkan kompromi atau kesepakatan yang signifikan secara politik,” ujar Josua.
Meski begitu, efektivitas dari negosiasi langsung antara kedua pemimpin negara itu tetap bergantung pada sejauh mana Prabowo mampu menawarkan konsesi yang substansial dan meyakinkan Trump bahwa AS akan memperoleh manfaat yang nyata. Dalam konteks peluang penurunan tarif, menurut Josua, peluang memang masih ada tetapi masih akan menghadapi tantangan besar.
Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, juga melihat jika nantinya Prabowo akan bernegosiasi langsung dengan Trump maka langkah itu bisa diartikan sebagai komitmen Indonesia dalam menjaga hubungan dagang strategis. Selain itu, negosiasi tingkat atas tersebut bisa dilihat sebagai cara menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak tarif 32 persen terhadap sejumlah komoditas ekspor utama.
Meski demikian, sama seperti Josua, Yusuf menilai mengubah atau menurunkan tarif yang sudah ditetapkan tidaklah sederhana. Meski negosiasi antara kepala negara dapat membuka jalur komunikasi yang lebih konstruktif, Yusuf menilai keputusan tarif masih akan dikonsultasikan ke pihak lain seperti United States Trade Representative (USTR), Kongres AS dan berbagai kelompok kepentingan industri di AS.
“Artinya, negosiasi di tingkat presiden bisa menjadi pintu masuk yang strategis, tetapi untuk menghasilkan perubahan kebijakan yang nyata, tetap diperlukan proses teknis dan diplomasi ekonomi yang berlapis. Indonesia perlu melengkapi upaya ini dengan langkah-langkah di tingkat operasional, termasuk pelibatan kementerian terkait dan perwakilan dagang kita di AS,” ujar Yusuf.
Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto kemungkinan melakukan negosiasi tarif impor langsung dengan Trump. Indonesia akan dikenakan tarif 32 persen mulai 1 Agustus 2025, tertinggi ketiga di Asia Tenggara. Meski begitu, Prasetyo belum bisa memastikan kapan Prabowo akan terbang ke AS.
“Ada (kemungkinan Prabowo ikut ke AS) tapi saya belum bisa memastikan kapan,” tutur Prasetyo di Istana Negara, Jumat (11/7).